Bio deterjen (biological detergent) adalah deterjen untuk mencuci pakaian yang mengandung enzim (enzyme). Enzim yang digunakan adalah berasal dari bakteri, yang mampu menyesuaikan hidupnya dalam segala kondisi termasuk kondisi panas. Sebagai gambaran, saat ini jenis deterjen untuk mencuci pakaian yang umum digunakan di negara-negara maju, adalah jenis bio deterjen. Walaupun deterjen jenis “non-biologis” (non-bio deterjen) juga masih cukup banyak digunakan. Sebagian besar produsen bio deterjen (deterjen biologis) juga memproduksi jenis non-bio deterjen (deterjen non-biologis).
Ada 3 macam zat enzim yang dapat dipergunakan dalam proses pencucian, yaitu :
-
Proteases, yang dapat bereaksi untuk melarutkan noda protein.
-
Amylases, yang dapat bereaksi untuk melarutkan noda kanji atau karbohidrat.
-
Lipases, yang dapat bereaksi untuk melarutkan noda minyak.
Daya kerja dan efektivitas bio deterjen
Proses bio deterjen (deterjen biologi) membersihkan cucian sama seperti yang dilakukan deterjen non-biologis, hanya ada efek tambahan daya kerja yang lebih maksimal dari enzim. Enzim mampu menghancurkan protein, pati dan lemak yang terdapat dalam kotoran dan noda-noda pada pakaian yang dicuci, misalnya noda makanan, keringat dan lumpur. Pengujian dalam hal kemampuan menghilangkan noda, mengembalikan kecemerlangan cucian putih dan mempertahankan warna cucian, yang dilakukan oleh Asosiasi Konsumen di Inggris dan kemudian diterbitkan dalam majalah “WHICH ?” membuktikan bahwa kinerja proses pencucian bubuk bio deterjen menunjukkan hasil yang mengagumkan.
Diketahui bahwa ternyata kemampuan daya bersih berbagai merek sabun bubuk bio deterjen adalah berkisar antara 58% sampai 81%. Prestasi ini lebih tinggi dari pada jenis sabun bubuk non-biologis yang mempunyai daya bersih sekitar 41% sampai 70%. Enzim-enzim dalam bio deterjen atau deterjen biologis memang masih mungkin mempunyai daya pembersih efektif pada suhu yang lebih rendah dari yang umumnya dibutuhkan oleh deterjen normal. Tetapi amat disarankan jenis sabun bio deterjen ini digunakan pada suhu almiahnya, yaitu sekitar sekitar 40 derajat Celcius, agar daya bersihnya maksimal. Walaupun sebenarnya ia dapat bekerja efektif pada suhu antara 49 – 72 derajat Celcius atau antara 37 – 57 derajat Celcius dan antara pH 6,0 – 9,5.
Kontroversi yang menyangkut reaksi alergi
Sebagaimana kita ketahui bahwa ada sebagian orang yang alergi terhadap sesuatu. Termasuk mungkin ada kekhawatiran alergi terhadap enzim pada salah satu organ tubuhnya, misalnya kulit. Enzim amat mungkin mengenai kulit terutama pada saat mengangkat pakaian yang masih basah setelah dicuci dengan deterjen yang mengandung enzim. Enzim yang dipakai dalam bio deterjen umumnya adalah jenis enzim protease. Suatu penelitian yang dilakukan di Inggris ternyata membuktikan bahwa “produk-produk bio deterjen tidak menimbulkan iritasi sebagaimana yang terjadi jika memakai non-bio deterjen (deterjen biasa pada umumnya). Enzim yang digunakan pada bio deterjen tidak akan mengakibatkan timbulnya peningkatan iritasi kulit, jika memang telah mengalami iritasi dari penyebab lain.
Sebuah studi perihal ini yang dilakukan oleh sekumpulan rumah sakit kulit (rumah sakit dermatologi) di Inggris yang kemudian dipublikasikan dalam majalah “British Journal of Dermatology” diketahui bahwa “keseimbangan semua enzim yang terjadi dalam suatu formula bio deterjen, tidak akan menyebabkan baik iritasi ataupun alergi kulit, karena efek samping negatif terhadap kulit manusia yang disebabkan enzim, ternyata tidak terbukti dan hanya isapan jempol belaka.
Pemanfaatan bio deterjen dimasa mendatang
Sejak awal pemakaiannya pada sekitar tahun 1970-an, deterjen yang mengandung deterjen ensim aktif (enzyme activated detergent) ini sudah mulai dipakai secara luas. Semula, zat enzim yang sebenarnya termasuk jajaran deterjen ini, masih kurang diminati orang karena harganya yang kelewat tinggi, jika dibandingkan dengan harga deterjen aktif lainnya. Namun saat ini, zat enzim sudah bukan lagi barang mahal mengingat dampak positifnya yang demikian besar.
Enzim merupakan katalisator yang berkemampuan menghancurkan dan melarutkan noda karbohidrat dan protein. Setelah membentuk larutan, maka enzim bebas bereaksi terhadap yang lain. Zat enzim deterjen (enzyme detergent) tidak boleh dicampur dengan alkali atau bleach yang kuat, karena justru akan dapat mengurangi daya reaksi zat enzim itu sendiri. Zat enzim amat diperlukan untuk mencuci semua jenis cucian. Reaksi enzim akan menguat dua kali lipat untuk setiap kenaikan suhu 10 derajat Celcius, sampai dengan batas suhu mencapai angka 50 derajat Celcius.
Teknis pencucian wet cleaning yang sekarang berkembang sebagai pengganti sistim pencucian dry cleaning, adalah sistim pencucian pakaian yang hanya mempergunakan air dingin, sabun dan pelembut mengandung enzim yang ramah lingkungan dalam arti mudah diuraikan oleh alam (biodegradable).
Menurut Environmental Protection Agency (EPA), wet cleaning adalah metode profesional pencucian pakaian yang paling aman bagi semua jenis serat benang, termasuk yang berasal dari hewan. Karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya, tidak menghasilkan limbah berbahaya, tidak menimbulkan polusi udara dan mengurangi potensi kontaminasi air dan tanah. Jenis deterjen khusus, softener dan kondisioner yang digunakan dalam proses wet cleaning lebih ringan tingkat kontaminasi hasil buangannya dibanding dengan produk bahan pencuci pakaian yang dipakai dirumah-tangga. Semua sisa produksi yang dibuang, dengan mudah dapat diurai dalam unit pengolahan air limbah setempat.
Referensi : Buku “Seluk-Beluk Operasional Seni Binatu” dan Wikipedia
Laundry Trainer & Expert Laundry


