Image From : assets.kompas.com
Ada kalanya suatu ketika kita jumpai pakaian berbahan sutera yang tiba-tiba secara misterius nampak seakan-akan seperti “terbelah”. Biasanya hal ini terjadi setelah pakaian tersebut dicuci dalam suatu proses pencucian normal dimesin cuci, tentunya dengan mengalami agitasi (bantingan atau adukan) pula.
Kerusakan bahan sutera ini terlihat pada konstruksi serat benang lungsin (vertikal) yang mengait serat benang pakan (horisontal) yang lebih tebal, kemudian menjadi menipis memanjang sehingga seakan-akan seperti rusak atau terbelah. Padahal serat benang pakan yang lebih tebal tersebut tidak rusak dan tetap utuh. Kadang-kadang masalah semacam ini bisa juga terjadi sebelum pakaian diproses cuci.
Kerusakan bahan yang diakibatkan karena terjadinya pengikisan (abrasi), pelenturan ataupun tekanan akan menyebabkan konstruksi bahan menjadi tidak seimbang.Dan agitasi yang terjadi ketika pakaian dicuci didalam mesin, justru akan lebih memperburuk bagian kain yang sudah rapuh karena pemakaian tersebut.
Jelasnya, masalah kerusakan bahan pakaian semacam ini sulit untuk dihindari oleh sipemilik ataupun oleh sipelaku jasa laundry, walaupun dilakukan dengan cara pencucian yang khusus sekalipun.
Hanya produsen pembuat bahan tekstilnya yang dapat mencegah kerusakan ini dengan menyeimbangkan benang dan konstruksi anyaman kain dengan lebih tepat.
Umumnya masalah tersebut terjadi karena konstruksi benang yang arah vertikal terlalu lemah, sehingga kekuatannya tidak seimbang dengan konstruksi benang yang arah horisontal. Sehingga kelenturan kain menjadi terbatas dari kondisi normalnya, sehingga akan bermasalah pada saat kain dicuci. Jadi sekali lagi, jelas yang harus bertanggung-jawab adalah produsennya.
Bila kain sudah rusak, maka tidak ada cara yang tepat yang dapat mengembalikannya seperti semula.
Referensi : Buletin IFI, September 1998
Editing by H. Santosa Budhi HP CLM MBALaundry Trainer & Expert Laundry


